Di tengah arus informasi digital yang deras dan perubahan sosial yang cepat, peran guru dalam Membentuk Karakter Unggul pada Generasi Z dan Alpha menjadi semakin krusial di tahun 2025. Pendidikan moral dan etika bukan lagi sekadar mata pelajaran tambahan, melainkan inti dari proses pembentukan individu yang berintegritas, berempati, dan memiliki daya juang tinggi. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dan pembimbing dalam menanamkan nilai-nilai luhur yang akan menjadi bekal hidup siswa di masa depan.
Generasi Z dan Alpha, yang tumbuh di era serba digital, memiliki karakteristik unik. Mereka cepat beradaptasi dengan teknologi, namun terkadang rentan terhadap disinformasi dan tekanan sosial dari dunia maya. Di sinilah Membentuk Karakter Unggul melalui pendidikan moral menjadi sangat relevan. Guru perlu mengintegrasikan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, gotong royong, dan rasa hormat ke dalam setiap aspek pembelajaran, tidak hanya di kelas Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Misalnya, pada hari Senin, 12 Mei 2025, sebuah program “Guru Penggerak Karakter” yang diluncurkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah di Semarang, telah berhasil mengimplementasikan metode pengajaran berbasis proyek yang mendorong kolaborasi dan pemecahan masalah etis di kalangan siswa SMA.
Guru juga berperan aktif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung Membentuk Karakter Unggul. Ini termasuk penerapan disiplin positif, resolusi konflik yang konstruktif, serta penyediaan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kepemimpinan dan inisiatif. Kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, palang merah remaja, atau klub debat, yang dibimbing oleh guru, menjadi wadah efektif untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian sosial dan tanggung jawab. Penting bagi guru untuk memahami psikologi perkembangan generasi ini agar pendekatan yang digunakan lebih tepat dan efektif.
Pada tanggal 20 Juni 2025, pukul 14.00 WIB, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Prof. Dr. Haris Supratman, M.Pd., akan membuka simposium nasional “Pendidikan Karakter di Era Digital” di Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat. Simposium ini akan membahas praktik terbaik dan tantangan dalam pendidikan karakter, menekankan pentingnya sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Melalui peran sentral guru, diharapkan nilai-nilai luhur dapat terus terinternalisasi dalam diri setiap siswa, menciptakan generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh karakternya. Artikel ini diselesaikan pada hari Minggu, 15 Juni 2025.
