Para pendidik adalah ujung tombak dalam membentuk masa depan generasi penerus bangsa. Namun, ironisnya, banyak guru di Indonesia masih terbebani oleh tumpukan tugas administratif yang menguras waktu dan energi mereka. Kondisi ini membuat mereka kesulitan untuk fokus pada mengajar secara optimal, sebuah paradoks yang perlu segera diurai demi kemajuan kualitas pendidikan. Mengembalikan guru ke peran inti mereka adalah kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inspiratif dan efektif.
Kompleksitas administrasi guru meliputi beragam jenis laporan manual, pengisian data siswa yang berulang, penyusunan rencana pembelajaran yang terlalu detail, hingga tuntutan pelaporan kegiatan non-akademik. Semua tugas ini, yang seringkali bersifat birokratis dan kurang relevan dengan proses pembelajaran langsung, memangkas waktu berharga yang seharusnya digunakan guru untuk persiapan materi, penelitian, atau bahkan interaksi personal yang mendalam dengan siswa. Akibatnya, guru mengalami kelelahan, motivasi menurun, dan kualitas pengajaran berpotensi terpengaruh. Sebuah survei independen yang dilakukan oleh Aliansi Guru Peduli pada Mei 2025 mengungkapkan bahwa guru menghabiskan rata-rata 10-15 jam per minggu untuk tugas administratif.
Untuk memungkinkan guru fokus pada mengajar, digitalisasi menjadi solusi mutlak. Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, perlu mempercepat implementasi sistem informasi manajemen sekolah (SIMS) yang terintegrasi dan ramah pengguna. SIMS memungkinkan guru untuk memasukkan data satu kali, dan data tersebut dapat diakses oleh semua pihak yang berkepentingan, sehingga mengurangi duplikasi kerja dan meminimalkan penggunaan kertas. Sebagai contoh, pada rapat koordinasi tingkat nasional yang digelar pada Senin, 22 April 2025, di Auditorium Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai (Pusdiklatpeg), pemerintah telah mengumumkan rencana perluasan program percontohan SIMS ke 1.000 sekolah tambahan pada tahun ajaran berikutnya.
Selain digitalisasi, delegasi tugas administratif kepada staf pendukung juga merupakan langkah penting agar guru dapat fokus pada mengajar. Pekerjaan seperti pengelolaan arsip fisik, fotokopi materi, atau input data non-akademik yang tidak memerlukan keahlian pedagogis guru, dapat diserahkan kepada tenaga administrasi sekolah. Hal ini memerlukan penambahan alokasi staf non-pengajar di sekolah atau restrukturisasi peran yang ada. Pemberian otonomi lebih besar kepada pihak sekolah dalam mengelola administrasi internalnya juga akan membantu, memungkinkan penyesuaian prosedur agar lebih efisien dan relevan dengan konteks sekolah.
Dengan upaya kolaboratif dari semua pihak, termasuk pemerintah, sekolah, dan komunitas pendidikan, diharapkan guru dapat sepenuhnya fokus pada mengajar. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, meningkatkan kualitas interaksi di kelas, dan pada akhirnya, membentuk generasi muda yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
