Pernyataan dari Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) mengenai fenomena murid yang menunjukkan tanda-tanda kurang pandai dalam kemampuan dasar, seperti membaca dan berhitung, telah menarik perhatian luas. Dirjen Dikdasmen secara spesifik mengaitkan kondisi ini dengan dampak jangka panjang dari masa pandemi Covid-19. Kondisi ini mengindikasikan adanya “ketertinggalan belajar” yang perlu segera diatasi agar tidak memengaruhi masa depan generasi penerus.
Masa pandemi Covid-19 memaksa sistem pendidikan beralih ke pembelajaran jarak jauh (PJJ). Meskipun PJJ merupakan solusi terbaik saat itu, implementasinya di lapangan menghadapi berbagai tantangan. Akses internet yang tidak merata, keterbatasan perangkat, serta kurangnya pendampingan orang tua di rumah menjadi kendala utama. Akibatnya, banyak siswa yang tidak mendapatkan pengalaman belajar optimal, sehingga kemampuan dasar mereka, terutama di jenjang pendidikan awal, terpengaruh dan menyebabkan mereka menjadi kurang pandai pada beberapa aspek.
Situasi ini menciptakan learning loss atau ketertinggalan belajar yang signifikan. Anak-anak yang seharusnya menguasai dasar-dasar literasi dan numerasi di usia tertentu, justru mengalami kesulitan. Fenomena ini perlu menjadi perhatian serius bagi semua pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, hingga orang tua. Jika tidak segera diatasi, ketertinggalan ini dapat berdampak pada jenjang pendidikan selanjutnya dan bahkan pada kualitas sumber daya manusia di masa depan, yang pada akhirnya akan membuat mereka kurang pandai dalam menghadapi tantangan yang lebih besar.
Sebagai contoh, pada hari Selasa, 21 Mei 2024, pukul 10.00 WIB, dalam sebuah diskusi panel virtual tentang evaluasi pendidikan pasca-pandemi, Dirjen Dikdasmen, Bapak Dr. Agus Wijaya, menyampaikan bahwa hasil asesmen nasional menunjukkan adanya disparitas kemampuan dasar yang mencolok antara siswa sebelum dan selama pandemi. Beliau menekankan bahwa upaya ekstra harus dilakukan untuk membantu siswa yang kurang pandai ini agar dapat mengejar ketertinggalan.
Untuk mengatasi masalah ini, berbagai program pemulihan pembelajaran perlu digalakkan. Ini bisa berupa program bimbingan belajar tambahan, pendekatan personalisasi dalam mengajar, atau pengembangan modul pembelajaran yang lebih adaptif. Kolaborasi antara sekolah dan orang tua juga sangat penting untuk memastikan anak-anak mendapatkan dukungan yang memadai. Dengan upaya bersama, diharapkan murid yang kurang pandai dapat kembali menemukan potensi terbaik mereka dan ketertinggalan belajar ini dapat diminimalisir demi masa depan pendidikan yang lebih baik.
