Integritas dalam dunia gulat profesional sangat bergantung pada akurasi pengambilan keputusan oleh wasit di atas matras. Sebagai barometer olahraga nasional, kini PGSI Jakarta secara resmi mulai mengadopsi teknologi mutakhir untuk meminimalisir kesalahan manusia selama pertandingan berlangsung. Langkah untuk gunakan tinjauan video ini menjadi standar baru dalam setiap kejurda maupun seleksi atlet menuju level yang lebih tinggi. Selain fokus pada aspek perwasitan, manajemen juga sangat memperhatikan kondisi fisik pemain melalui manajemen berat badan agar performa mereka tetap optimal tanpa mengorbankan kesehatan. Proses penilaian pelanggaran yang transparan ini diharapkan dapat menciptakan iklim kompetisi yang jauh lebih jujur dan sportif di lingkungan ibu kota.
Penerapan sistem tinjauan video atau video challenge dalam gulat memungkinkan pelatih untuk mengajukan keberatan terhadap poin atau keputusan wasit yang dianggap keliru. Di Jakarta, kamera beresolusi tinggi ditempatkan di beberapa sudut matras untuk menangkap setiap detail gerakan, mulai dari kuncian tangan hingga posisi kaki yang keluar dari garis tanding. Wasit kepala memiliki wewenang untuk melihat rekaman gerak lambat sebelum memberikan keputusan final. Hal ini sangat penting karena dalam gulat, gerakan terjadi sangat cepat dan terkadang sulit dilihat secara kasat mata, terutama saat terjadi bantingan beruntun atau perebutan posisi di bawah.
Selain untuk keadilan pertandingan, rekaman video ini berfungsi sebagai alat pembelajaran bagi para wasit muda. PGSI Jakarta rutin mengadakan sesi evaluasi di mana video-video pertandingan dibedah bersama untuk menyamakan persepsi mengenai kriteria pelanggaran. Wasit diajarkan untuk lebih jeli melihat tindakan ilegal seperti tarikan pakaian, kuncian jari, atau dorongan yang disengaja ke luar matras. Dengan standarisasi penilaian yang berbasis bukti visual, setiap atlet akan merasa lebih terlindungi dan yakin bahwa hasil akhir pertandingan benar-benar ditentukan oleh kemampuan teknis mereka, bukan oleh kekhilafan pengadil.
Respons dari para pelatih dan atlet di Jakarta sangat positif terhadap inovasi ini. Mereka merasa bahwa teknologi ini memberikan rasa aman psikologis karena adanya “hakim kedua” yang objektif. Hal ini juga secara tidak langsung mendidik atlet untuk bermain lebih bersih dan teknis. Jika seorang atlet tahu bahwa setiap gerakannya terpantau oleh kamera, mereka akan cenderung menghindari praktik-praktik curang yang dapat merugikan tim. Teknologi ini adalah bentuk investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas mentalitas olahragawan di ibu kota.
